Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Kamis (29/10/26), terutama akibat tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor teknologi dan layanan komunikasi.
Indeks Nasdaq Composite turun 1,4% menjadi 26.184,72, S&P 500 melemah 0,3% menjadi 7.720,39, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,3% menjadi 52.342,56.
Pelemahan ini terutama dipicu oleh anjloknya saham Alphabet hingga hampir 13% setelah laba dan pendapatan kuartalan unit Google Services perusahaan tersebut gagal memenuhi ekspektasi pasar.
Kondisi ini turut membebani sentimen investasi di sektor kecerdasan buatan (AI), di tengah kekhawatiran mengenai besarnya belanja infrastruktur serta keberlanjutan imbal hasil investasi di bidang AI.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung negatif terhadap saham-saham teknologi dan AI, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terkait tingginya belanja infrastruktur AI dan potensi imbal hasil investasi yang tidak sepadan dengan modal yang telah dikeluarkan. Kinerja Alphabet yang mengecewakan memperkuat tekanan pada sektor teknologi; sebelumnya, Meta juga melaporkan arus kas bebas (free cash flow) negatif untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade akibat pengeluaran besar untuk pusat data dan kapasitas komputasi. Di sisi lain, terjadi rotasi investasi ke sektor-sektor defensif serta saham-saham yang diuntungkan oleh ketahanan ekonomi, seperti sektor kesehatan, utilitas, keuangan, dan industri. Para investor juga meningkatkan eksposur pada obligasi pemerintah AS sebagai aset aman (safe haven), yang mendorong penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah (Treasury).
REGULASI & KEBIJAKAN: The Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4% setelah pertemuan kebijakan terbarunya. The Fed mengisyaratkan akan mengambil pendekatan "menunggu dan melihat" (wait-and-see) dengan mengevaluasi perkembangan data ekonomi sebelum menentukan langkah kebijakan berikutnya. Sikap ini didukung oleh data inflasi PCE bulan September yang secara umum sejalan dengan ekspektasi, meskipun masih berada di atas target inflasi 2%. Inflasi PCE tahunan tercatat sebesar 3,6%, sementara inflasi inti mencapai 3,1%. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS tetap kokoh, dengan PDB kuartal ketiga tumbuh 3,4% secara tahunan (YoY), melampaui ekspektasi sebesar 3,1%. Belanja konsumen yang tangguh serta peningkatan investasi swasta, khususnya pada infrastruktur kecerdasan buatan (AI), turut menopang pertumbuhan ekonomi tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa arah kebijakan The Fed ke depan masih sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) naik tipis ke kisaran 102,2 setelah data menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS yang solid dan tekanan inflasi yang masih persisten. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun turun 11,3 bps menjadi 4,938%, sementara imbal hasil tenor 2 tahun melemah 9 bps menjadi 4,61%, di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset aman (safe haven) serta evaluasi investor terhadap prospek kebijakan The Fed. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun stabil di kisaran 2,83%, sedangkan imbal hasil tenor 2 tahun turun tipis ke 1,90% menjelang pengumuman kebijakan Bank of Japan (BOJ). Yen Jepang bergerak stabil di kisaran JPY157,7 per Dolar AS setelah sempat berada di bawah tekanan pada awal pekan.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa sebagian besar ditutup lebih tinggi setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga sesuai dengan ekspektasi pasar. Indeks FTSE 100 Inggris naik tipis untuk sesi kedua berturut-turut, didorong oleh kenaikan 1,7% pada saham Shell setelah perusahaan tersebut mengumumkan program pembelian kembali saham (share buyback) senilai US$5 miliar untuk kuartal keempat. Indeks DAX 40 Jerman menguat 1,3% ke level 26.040, mencatatkan kenaikan selama empat sesi berturut-turut dan mencapai level tertinggi sejak akhir Agustus. Sementara itu, indeks CAC 40 Prancis naik 1% ke level 7.970, mencapai level tertinggi dalam satu bulan terakhir. Indeks STOXX Europe 600 (EU600) juga menguat 0,77% menjadi 649,10. Pasar saham Asia bergerak variatif. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 1,1% menjadi 64.659, melanjutkan kenaikan selama tiga sesi berturut-turut setelah kinerja kuat Advantest mendorong sentimen di sektor semikonduktor. Indeks BSE Sensex India naik 1,2% menjadi 74.151, mencapai level tertinggi sejak pertengahan Oktober. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,6% menjadi 22.959 akibat kekhawatiran mengenai imbal hasil investasi kecerdasan buatan (AI) yang membebani saham-saham teknologi. Indeks KOSPI Korea Selatan terkoreksi 1,24% menjadi 5.938 karena aksi ambil untung pada saham-saham berkapitalisasi besar. Indeks Shanghai Composite melemah 0,82% menjadi 3.651. Indeks STI Singapura turun 0,03% menjadi 5.396, sementara indeks FKLCI Malaysia terkoreksi 0,17% menjadi 1.611.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas didominasi oleh pelemahan, meskipun harga energi tetap berada di level tinggi akibat risiko geopolitik. Minyak Brent turun 0,75% menjadi sekitar US$111/barel, sementara WTI melemah 0,76% menjadi US$102,00/barel. Harga minyak masih berada di dekat level tertinggi dalam enam minggu, didorong oleh kekhawatiran akan eskalasi konflik AS-Iran, potensi serangan militer AS terhadap Iran, serta meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz. Harga batu bara terkoreksi 0,36% menjadi US$150,15/ton, namun tetap berada di dekat level tertinggi dalam tiga tahun akibat tingginya harga LNG dan pergeseran penggunaan energi ke pembangkit listrik tenaga batu bara. Emas terkoreksi 1,13% menjadi US$4.022/ounce seiring dengan inflasi AS yang persisten dan pertumbuhan ekonomi yang kuat, yang memicu ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga. Tembaga turun 1,03% menjadi US$660,25/lb, mengakhiri tren kenaikan selama empat sesi berturut-turut akibat aksi ambil untung. Sementara itu, harga CPO Malaysia melemah 1,41% menjadi MYR4.391/ton, mencapai level terendah sejak pertengahan Oktober, sedangkan nikel turun 0,44% menjadi sekitar US$15.536/ton akibat kelebihan pasokan global dan permintaan yang masih lesu.
AGENDA HARI INI:
-Jepang (JP): Keputusan Suku Bunga Bank Sentral Jepang (BoJ).
-Prancis (FR): PDB Kuartal III dan Inflasi bulan Oktober.
-Spanyol (ES), Jerman (DE), & Italia (IT): PDB Kuartal III.
-Zona Euro (EA): Tingkat Pertumbuhan PDB Kuartal III (estimasi awal/flash).
INDONESIA: Bank Indonesia (BI) berhasil menarik aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik dengan nilai hampir US$12 miliar melalui insentif biaya lindung nilai (hedging) menggunakan instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Dana tersebut terdiri dari hampir US$10 miliar melalui transaksi swap dan sekitar US$2 miliar melalui DNDF. Kebijakan ini diperkuat pada Oktober 2026 melalui diskon biaya lindung nilai hingga 30% untuk transaksi swap dan peningkatan insentif hingga 45% untuk DNDF. Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa strategi ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing serta memperkuat pasokan dolar AS tanpa harus bergantung pada kenaikan suku bunga.
-Selain itu, BI terus mendorong penguatan ketahanan sektor eksternal melalui peningkatan ekspor, khususnya ekspor non-migas, guna menambah pasokan devisa di dalam negeri. Meskipun harga beberapa komoditas utama seperti batu bara, CPO, dan nikel telah meningkat, kenaikan nilai ekspor belum sepenuhnya mencerminkan pertumbuhan volume ekspor. Namun, nilai ekspor mulai menunjukkan perbaikan pada Oktober 2026 dan diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir tahun. BI menilai kombinasi antara peningkatan ekspor dan aliran masuk investasi portofolio asing merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas rupiah, terutama di tengah ketidakpastian global yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven), termasuk dolar AS.
-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 3,49% ke level 5.098,06 pada perdagangan hari Kamis (29/10/26). Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp1,52 triliun di pasar reguler, dan jual bersih sebesar Rp1,08 triliun di seluruh pasar, sementara transaksi tunai dan negosiasi mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp441,74 miliar. Akumulasi jual bersih asing secara tahun berjalan (year-to-date) mencapai Rp126,19 triliun. Pembelian bersih asing terbesar tercatat pada saham BUMI, CUAN, AMRT, DEWA, DSSA, ASII, ENRG, EMAS, BRMS, dan KETR. Sementara itu, penjualan bersih asing terbesar terjadi pada saham BBCA, BBRI, BMRI, ANTM, TLKM, ISAT, TINS, UNTR, ADRO, dan PTBA. Nilai tukar Rupiah sempat melemah ke level Rp18.185/USD sebelum akhirnya kembali menguat ke Rp18.120/USD, didukung oleh intervensi Bank Indonesia (BI) melalui instrumen NDF, DNDF, dan pasar spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
-Secara teknikal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penurunan dengan indikator RSI (14) yang kembali turun ke level 28. IHSG diperkirakan rentan untuk menguji level support terdekat di 4.980 / 4.907. Jika level tersebut tertembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju support berikutnya di 4.456 (FR 161,80%). Sebaliknya, dalam skenario pemulihan (rebound), IHSG berpotensi bergerak menuju rentang resistance di 5.182 / 5.249 / 5.320.
“Para investor disarankan untuk tetap berhati-hati, menerapkan strategi buy on weakness secara selektif, atau cenderung menunggu konfirmasi sinyal yang lebih jelas,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Jumat (30/10).