Rupiah Terpuruk ke Rp18.183 per Dolar AS, Ancaman Kenaikan Bunga The Fed Membayangi!

Harry | Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:41

Pasardana.id – Rupiah menghadapi tekanan berat menjelang akhir 2026.

Nilai tukar rupiah ditutup di level terlemah sepanjang sejarah, Rp18.183 per dolar AS pada 28 Oktober, di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), pada Desember.

The Fed pada 27–28 Oktober memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00%, sesuai ekspektasi pasar.

Namun, keputusan tersebut tidak bulat.

Gubernur The Fed, Lisa Cook dan Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, menilai arah kebijakan The Fed, respons Bank Indonesia (BI), kenaikan harga minyak, serta berlanjutnya aksi jual saham Indonesia oleh investor asing akan menentukan pergerakan rupiah hingga akhir tahun.

“Sebagian besar tekanan terhadap rupiah berawal dari minyak. Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor bahan bakar dan mendorong inflasi AS. Kondisi ini dapat memperkuat alasan The Fed menaikkan suku bunga pada Desember,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10).

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan bunga The Fed memang meningkat.

Pada 27 Oktober, kontrak berjangka suku bunga AS menunjukkan peluang kenaikan bunga pada Desember mencapai 83%, naik dari sekitar 71% pada 23 Oktober.

The Fed menyatakan inflasi masih tinggi, meskipun pertumbuhan lapangan kerja dinilai sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja dan tingkat pengangguran relatif stabil.

Keputusan berikutnya akan bergantung pada perkembangan data ekonomi, termasuk inflasi.

Tekanan inflasi AS turut dipengaruhi harga energi. Inflasi tahunan hingga September tercatat 3,7%, sementara harga energi melonjak 20,4%.

Di tengah konflik Timur Tengah, harga minyak Brent bahkan ditutup di sekitar US$114 per barel pada 27 Oktober.

Kenaikan harga minyak berisiko memperbesar kebutuhan dolar untuk impor energi Indonesia sekaligus menambah tekanan terhadap rupiah.

Dari dalam negeri, BI telah menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00% dalam rapat 20–21 Oktober, sementara BI-Rate dipertahankan di level 5,75%.

Langkah tersebut diharapkan memperkuat daya tarik penempatan dana dalam rupiah.

BI dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada 17–18 November dan 15–16 Desember.

Apabila The Fed memberikan sinyal kenaikan bunga yang lebih kuat, tekanan bagi BI untuk memperketat kebijakan moneter berpotensi meningkat.

Tekanan rupiah juga datang dari pasar saham.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat investor asing membukukan jual bersih saham senilai Rp94,87 triliun sepanjang Januari hingga 23 Oktober.

Aksi jual tersebut dapat meningkatkan permintaan dolar ketika dana hasil penjualan saham dikonversi kembali ke mata uang AS.

Sentimen pasar turut dibayangi usulan MSCI pada 15 Oktober untuk mengubah klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Perubahan tersebut berpotensi mengeluarkan saham Indonesia dari indeks pasar berkembang MSCI dan memicu risiko arus keluar dana asing lebih lanjut.

Batas penyampaian masukan atas usulan itu ditetapkan pada 30 April 2027.

Sana menilai perkembangan inflasi AS, harga minyak, dan arah kebijakan kedua bank sentral akan menjadi penentu utama stabilitas rupiah menjelang akhir tahun.

“Jika harga minyak tetap tinggi dan inflasi AS tidak mereda, alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada Desember akan semakin kuat. Tekanan terhadap rupiah dan BI pun berpotensi meningkat. Sebaliknya, jika kedua faktor tersebut mereda, rupiah memiliki ruang untuk stabil,” pungkasnya.

Sejumlah agenda penting yang perlu dicermati pasar meliputi rilis data inflasi PCE AS pada 29 Oktober, inflasi AS periode Oktober pada 10 November, rapat BI pada 17–18 November, rapat The Fed pada 8–9 Desember, serta rapat BI pada 15–16 Desember.

nilai tukar rupiah suku bunga The Fed EBC Financial Group Sana Ur Rehman Bank Indonesia (BI) Bursa Efek Indonesia (BEI) data inflasi AS BI Rate