BEI Siapkan Dana Rp596,4 Miliar pada 2027, Bidik Transaksi Harian Rp21 Triliun!

Harry | Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:30

Pasardana.id – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan anggaran Rp596,4 miliar untuk menjalankan 51 program kerja pada 2027.

Bursa juga menargetkan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp21 triliun, naik 16,7% dibandingkan target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 revisi sebesar Rp18 triliun.

Target tersebut menjadi bagian dari strategi BEI memperkuat likuiditas, meningkatkan kualitas pasar modal, serta mendorong daya saing bursa Indonesia di tingkat global.

Demikian dipaparkan Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Rabu (28/10).

Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui tiga agenda, yakni perubahan anggaran dasar untuk mendukung demutualisasi bursa, penggunaan saldo laba ditahan, serta RKAT tahun buku 2027.

Terkait demutualisasi, perubahan anggaran dasar akan berlaku efektif setelah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta persetujuan atau penerimaan pemberitahuan dari Menteri Hukum.

Pemegang saham juga menyetujui penggunaan saldo laba ditahan berdasarkan laporan keuangan auditan per 30 Juni 2026.

Dana sebesar Rp2 triliun akan dialokasikan sebagai cadangan operasional dan pengembangan perusahaan, sedangkan Rp1,564 triliun disiapkan untuk pembagian dividen tunai khusus kepada pemegang saham yang berhak.

Dalam RKAT 2027, BEI menargetkan pencatatan efek baru senilai Rp905 triliun, meningkat 13,1% dibandingkan target revisi 2026 sebesar Rp800 triliun.

Target tersebut mencakup 25 pencatatan saham baru senilai Rp25 triliun, penerbitan obligasi dan sukuk sebesar Rp175 triliun, serta efek lainnya senilai Rp705 triliun.

Bursa juga membidik rata-rata 1,3 juta investor aktif per bulan, melonjak 44,4% dari target revisi 2026 sebanyak 900 ribu investor.

Untuk mendukung target tersebut, BEI mengalokasikan Rp186,8 miliar atau 31,3% dari total anggaran bagi pilar bisnis.

Sementara itu, Rp409,7 miliar atau 68,7% dialokasikan untuk penguatan infrastruktur dan kapabilitas pendukung.

Dari jumlah tersebut, Rp380,7 miliar diarahkan untuk penguatan dan optimalisasi aset teknologi informasi.

BEI turut memproyeksikan pendapatan pada 2027 mencapai Rp2,59 triliun, tumbuh 14,6% dibandingkan RKAT 2026 revisi.

Laba bersih ditargetkan sebesar Rp563,9 miliar, meningkat 22,76%.

Dari sisi keuangan, total aset BEI diproyeksikan mencapai Rp9,12 triliun dengan ekuitas Rp7,66 triliun.

Bursa juga menganggarkan belanja investasi sebesar Rp670 miliar, naik 161,82%, untuk mendukung pengembangan bisnis dan infrastruktur.

Jeffrey menambahkan, seluruh program tersebut merupakan bagian dari fase fundamental reinvention dalam Masterplan BEI 2026–2030.

Bursa membidik posisi sebagai salah satu dari 10 bursa terbesar dunia pada 2030, dengan kapitalisasi pasar Rp30.000 triliun, rata-rata nilai transaksi harian Rp31 triliun, 1.100 perusahaan tercatat, serta 35 juta investor pasar modal.

Untuk mencapai sasaran tersebut, BEI akan berfokus pada penguatan likuiditas dan akses pasar, perluasan pendanaan bagi perusahaan, serta pengembangan produk dan infrastruktur baru.

Sejumlah inisiatif yang telah dijalankan meliputi penyempurnaan metodologi High Shareholding Concentration (HSC), penguatan aturan pencatatan saham, pengembangan liquidity provider, penurunan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1, penerapan bertahap intraday short selling, serta peluncuran ETF emas.

Melalui program kerja 2027, BEI berharap dapat memperkuat fondasi operasional dan tata kelola sekaligus memperdalam pasar modal nasional di tengah dinamika ekonomi global.

RUPSLB Bursa Efek Indonesia (BEI) High Shareholding Concentration (HSC) kinerja perusahaan nilai rata-rata nilai transkasi harian (RNTH) Initial Public Offering (IPO)