Artificial Intelligence pada Investasi
Sejarah Kehadiran AI
Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia mengelola keuangan dan berinvestasi secara drastis. Teknologi sudah lama membantu investor, jauh sebelum istilah AI ramai dibicarakan. Perkembangan terbaru datang dari AI, termasuk AI generatif, yang kini dipakai di industri jasa keuangan untuk menganalisis data, menyaring portofolio, memeriksa kepatuhan, hingga menyusun catatan rapat dan konten pemasaran. Pekerjaan penelitian dan persiapan data di balik layar menjadi yang pertama terdampak.
Adopsi AI Global
Berdasarkan data JP Morgan Guide to the Markets, penggunaan AI di dunia bisnis terus meningkat. Per Agustus 2026, 22% bisnis secara total tercatat sudah menggunakan AI. Adopsi tertinggi ada di sektor informasi sebesar 46%, disusul sektor profesional dan teknis sebesar 42%, keuangan dan asuransi sebesar 40%, serta jasa pendidikan sebesar 34%. Angka ini diperkirakan terus naik. Dalam enam bulan ke depan, jasa pendidikan diproyeksikan mencapai sekitar 50% adopsi. Posisi sektor keuangan dan asuransi di urutan teratas menunjukkan bahwa AI sudah masif dipakai di dunia keuangan, termasuk investasi. Salah satu implikasi dari pemanfaatan itu adalah layanan saran investasi otomatis seperti robo-advisor. !images11.png Pengenalan Robo-Advisor
Robo-advisor adalah layanan perencanaan keuangan dan investasi otomatis berbasis algoritma, dengan sedikit atau tanpa pengawasan manusia. Layanan ini umumnya menanyakan kondisi keuangan dan tujuan masa depan pengguna melalui pertanyaan survey. Data tersebut kemudian digunakan untuk memberikan saran bahkan pada layanan yang lebih canggih lainnya dapat berinvestasi secara otomatis. Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendefinisikan robo-advisor sebagai platform teknologi yang memberikan saran investasi otomatis kepada individu berdasarkan profil risiko mereka. Dengan begitu, investor tidak perlu repot menganalisis dan menghabiskan waktu untuk mendapat sara yang sesuai dengan kondisinya. Keunggulan utamanya ada pada biaya dan kemudahan. Menurut ulasan The Global Treasurer tahun 2017, penasihat keuangan tradisional umumnya mengenakan biaya sekitar 1-2% dari saldo akun, sedangkan sebagian robo-advisor hanya sekitar 0,2-0,5%. Akan tetapi, di Indonesia, platform robo-advisor tidak dikenakan biaya alias 0% dan tidak dibebankan kepada penggunanya. Di Indonesia, berdasarkan berbagai informasi yang tersedia di internet, sistem robo-advisor mulai diperkenalkan di beberapa platform fintech sejak tahun 2021, seperti di Bareksa. Selain Bareksa, platform lain seperti Bibit juga memiliki robo-advisor yang digunakan untuk memberikan saran investasi kepada penggunanya. Keduanya membantu pengguna mengenali profil risiko sebelum menerima rekomendasi alokasi produk.
Perkembangan Robo-Advisor
Seiring berjalannya waktu, cara kerja robo-advisor ikut berubah. Awalnya sistem hanya mengolah data yang dimasukkan pengguna, lalu memberikan saran sesuai logika yang telah diprogram. Pendekatan ini konsisten, tetapi kaku karena tidak bisa keluar dari batas kodenya. Kini, beberapa robo-advisor mulai terintegrasi dengan AI, sehingga informasi yang diberikan lebih relevan dan tidak lagi terbatas pada aturan tersebut. Karena AI belum sepenuhnya menggantikan peran penasehat manusia, penggunaannya juga masih memiliki keterbatasan sebagaimana AI masih kesulitan memahami lebih dalam emosi klien dan situasi krisis. Oleh karena itu, penting untuk tetap melibatkan peran manusia sebagai pengguna untuk bersikap kritis dan melakukan verifikasi guna memperoleh informasi yang optimal.
Bijak Menggunakan Informasi dari AI dan Robo-Advisor
Teknologi tentunya sangat membantu, tetapi ada beberapa hal yang perlu diingat agar informasinya dapat dipakai dengan bijak sebagai berikut.
Muhamad Rizky Rizqita
Departemen Edukasi, Literasi, dan Inklusi Investasi
Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia (APII)
Referensi
Sumber: Global Trend Series: Pemanfaatan Teknologi dalam Investasi