OJK Soroti Ancaman FOMO dan Kejahatan Digital, Gen Z Diminta Cerdas Kelola Uang

Harry | Rabu, 9 September 2026 - 14:42

Pasardana.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong generasi muda meningkatkan literasi keuangan agar mampu mengelola penghasilan, berinvestasi secara bijak, serta terhindar dari kejahatan keuangan digital.

Pesan tersebut disampaikan dalam program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) bertema “Money Moves: Invest Today, Build Your Future” di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Selasa (8/9).

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku, Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono mengatakan, kedekatan generasi muda dengan teknologi digital tidak otomatis membuat mereka memiliki kecakapan finansial.

Menurutnya, semakin mudah akses terhadap produk dan layanan keuangan, semakin besar pula kebutuhan untuk memahami risiko dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

“Kelola, lindungi, tumbuhkan. Kelola uang kita sebelum uang mengendalikan pilihan kita. Lindungi apa yang sudah kita miliki dengan selalu ingat legal dan logis, serta tumbuhkan semuanya dengan tujuan yang jelas,” ujar Dicky dalam keterangan tertulis, Rabu (9/9).

Dicky menekankan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan serta mulai berinvestasi sejak dini.

Literasi keuangan juga diperlukan agar generasi muda tidak terjebak Fear of Missing Out (FOMO) maupun Fear of Other People’s Opinions (FOPO).

Gubernur Banten, Andra Soni menambahkan, penguatan literasi keuangan harus membuat generasi muda tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu mengelola penghasilan, membangun usaha, berinvestasi, dan melindungi diri dari kejahatan keuangan.

Ia mengingatkan berbagai modus kejahatan digital semakin beragam, mulai dari phishing, penyamaran sebagai petugas lembaga keuangan, tautan dan akun media sosial palsu, hingga investasi serta pinjaman online ilegal.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI, Annisa M. A. Mahesa meminta generasi muda tidak mengambil keputusan investasi secara impulsif hanya karena mengikuti tren atau rekomendasi media sosial.

Menurutnya, sebelum berinvestasi, generasi muda perlu memiliki dana darurat, menerapkan manajemen keuangan yang baik, menghindari utang konsumtif, serta memahami kondisi keuangan pribadi.

Dana investasi, lanjutnya, harus berasal dari uang dingin dan informasi yang digunakan harus berasal dari sumber tervalidasi.

Pentingnya peningkatan literasi juga tercermin dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026.

Indeks literasi keuangan nasional tercatat 69,57%, sedangkan inklusi keuangan mencapai 93,61%.

Khusus kelompok pelajar dan mahasiswa, indeks literasi keuangan hanya mencapai 62,72%, sementara indeks inklusi keuangannya sudah mencapai 92,76%.

Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara akses terhadap produk keuangan dan kemampuan menggunakannya secara tepat dan bertanggung jawab.

Program LIKE IT Series #6 di Kota Serang diikuti 1.000 mahasiswa secara luring dan 2.473 mahasiswa serta masyarakat umum secara daring.

Program LIKE IT sendiri telah berlangsung sejak 2021 dan merupakan kolaborasi Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Melalui LIKE IT 2026, OJK bersama para pemangku kepentingan mengajak generasi muda Banten membangun perilaku keuangan sehat, memahami risiko, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat sebagai bekal menuju kesejahteraan dan Indonesia Emas 2045.

kejahatan digital FOMO (Fear of Missing Out) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) 2026 literasi keuangan Fear of Other People’s Opinions (FOPO)