Adopsi AI Melesat, Ancaman Shadow AI Mengintai Perusahaan Asia Pasifik

Corri | Rabu, 9 September 2026 - 10:20

Pasardana.id – Adopsi kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat mendorong perusahaan meningkatkan investasi keamanan informasi.

Penelitian terbaru Kaspersky mencatat, 41% perusahaan secara global meningkatkan investasi keamanan informasi seiring meningkatnya penggunaan AI.

Di Asia Pasifik, 13% organisasi menempatkan kerentanan AI sebagai salah satu ancaman keamanan siber utama.

Meski masih di bawah eksploitasi kerentanan perangkat lunak (20%) dan phishing (19%), risiko terkait AI dinilai semakin mendesak.

India mencatat kekhawatiran tertinggi terhadap kerentanan AI sebesar 20%, disusul Malaysia 15%, Thailand dan Vietnam masing-masing 13%, Indonesia 10%, serta China 7%.

Risiko lain muncul dari penggunaan alat AI pihak ketiga oleh karyawan tanpa pengawasan atau yang dikenal sebagai shadow AI.

Sebanyak 30% organisasi di Asia Pasifik mengidentifikasi perilaku tersebut sebagai risiko umum.

Persentasenya mencapai 36% di India, 35% Malaysia, 33% Vietnam, 31% China, 24% Indonesia, dan 18% Thailand.

Sebanyak 60% organisasi di kawasan tersebut masih mengizinkan penggunaan AI pihak ketiga dengan batasan tertentu, seperti larangan mengunggah nama perusahaan atau dokumen internal, serta memberikan pedoman dan pelatihan penggunaan yang aman.

Di sisi lain, adopsi AI internal terus meningkat.

Sebanyak 85% perusahaan tengah mendiskusikan, mengembangkan, menerapkan, atau menguji coba AI berbasis Large Language Models (LLM), sementara 10% lainnya telah mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam alur kerja.

Peningkatan kualitas pengambilan keputusan, efisiensi proses, dan pengurangan kesalahan manusia menjadi pendorong utama pengembangan AI internal.

Group Manager Kaspersky AI Technology Research Centre, Vladislav Tushkanov, mengatakan percepatan adopsi AI harus diimbangi dengan strategi keamanan siber yang komprehensif untuk menghadapi risiko kerentanan AI dan shadow AI.

“Strategi perlindungan yang paling efektif adalah memanfaatkan solusi keamanan siber komprehensif seperti Kaspersky Next, yang telah dilengkapi dengan kemampuan AI canggih. Pendekatan ini dapat mengurangi biaya secara signifikan dengan mencegah pelanggaran keamanan dan menyederhanakan manajemen keamanan, serta meningkatkan ketahanan operasional melalui penanganan insiden yang lebih cepat dan pengurangan dampak. Selain itu, pendekatan ini meningkatkan efisiensi tanpa perlu menambah jumlah karyawan dan mengoptimalkan investasi keamanan melalui konsolidasi perangkat," ujarnya, seperti dilansir dalam siaran pers, Rabu (09/9).

Managing Director Kaspersky Asia Pasifik, Adrian Hia menambahkan, perusahaan kini mulai bergeser dari sekadar mempertanyakan manfaat AI menuju bagaimana teknologi tersebut dapat diadopsi secara bertanggung jawab.

“Keberhasilan tidak lagi diukur dari penerapan teknologi baru semata, melainkan dari kemampuan perusahaan memahami risiko, menetapkan tata kelola yang tepat, dan membangun kepercayaan,” ujar Adrian.

Adapun Kaspersky merekomendasikan perusahaan memperkuat perlindungan melalui solusi keamanan terintegrasi, meningkatkan visibilitas terhadap ancaman siber, serta memanfaatkan teknologi AI dan threat intelligence untuk mempercepat deteksi, investigasi, dan respons insiden.

Penelitian tersebut melibatkan 1.800 pengambil keputusan dan spesialis TI serta keamanan siber dari 18 negara dan berbagai sektor industri, termasuk teknologi informasi, manufaktur, finansial, serta ritel dan grosir.

Artificial Intelligence (AI) kaspersky Kecerdasan Buatan