ANALIS MARKET (09/9/2026): IHSG Memiliki Ruang untuk Melanjutkan Penguatan

Ria | Rabu, 9 September 2026 - 08:41

Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan hari Selasa (26/8/2009), tertekan oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang lebih tinggi, serta aksi jual di sektor kesehatan.

Indeks S&P 500 turun 0,58% menjadi 7.673,52, Dow Jones Industrial Average melemah 1,18% menjadi 52.786,07, sementara Nasdaq Composite terkoreksi 0,32% menjadi 26.421,41.

SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar AS cenderung negatif setelah laporan ketenagakerjaan bulan Agustus menunjukkan penambahan 162.000 lapangan kerja di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls), jauh melampaui perkiraan 55.000, sementara tingkat pengangguran bertahan di angka 4,1%. Data ini memperkuat persepsi bahwa ekonomi AS tetap cukup kuat di tengah inflasi yang relatif tinggi, sehingga probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada bulan September meningkat menjadi sekitar 60%. Selanjutnya, investor akan memantau data PPI dan CPI bulan Agustus untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai keputusan FOMC pada tanggal 16 September.

GEOPOLITIK: Ketegangan AS-Iran kembali meningkat seiring berlanjutnya aksi militer di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak global. AS menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran sebagai respons atas serangan rudal terhadap kapal perang AS, sementara Iran kemudian menargetkan sejumlah kapal di Selat Hormuz dan Teluk Persia. Gangguan ini menekan arus ekspor minyak kawasan tersebut, di mana ekspor minyak Timur Tengah pada bulan Agustus dilaporkan turun 39% dibandingkan dengan angka dasar periode Januari-Februari sebelum konflik terjadi. Serangan terhadap fasilitas kilang Jazan milik Saudi Aramco juga meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan global produk minyak olahan.

REGULASI & KEBIJAKAN: Fokus kebijakan tetap tertuju pada arah suku bunga The Fed menjelang pertemuan FOMC bulan September. Data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan meningkatkan kemungkinan penerapan kebijakan moneter yang lebih ketat, sementara pernyataan dari para pejabat The Fed masih menunjukkan perbedaan pandangan antara pendekatan hawkish dan dovish. Sementara itu, Presiden Donald Trump kembali mendesak The Fed untuk memangkas suku bunga menyusul rilis data ketenagakerjaan, yang menambah tekanan politik terhadap independensi bank sentral tersebut.

PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun sempat menembus level 4,8%—tertinggi sejak Oktober 2023—sebelum akhirnya ditutup di kisaran 4,78%. Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun naik 2 basis poin (bps) menjadi 4,40% per 8 September 2026, mencerminkan ekspektasi yang meningkat terkait kebijakan suku bunga The Fed. Indeks Dolar AS (DXY) melemah ke kisaran 98,8, sementara Yen menguat mendekati level JPY153 per Dolar AS, didukung oleh ekspektasi pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh Bank of Japan (BoJ) serta berlanjutnya pembatalan posisi carry trade. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun turun ke kisaran 2,89%, sedangkan tenor 2 tahun turun menjadi 1,85%.

PASAR EROPA & ASIA: Pasar Eropa bergerak cenderung variatif. Indeks FTSE 100 Inggris ditutup relatif stagnan karena pelemahan pada saham sektor farmasi, konsumer, dan perbankan mengimbangi kenaikan saham-saham terkait komoditas. Indeks DAX 40 Jerman juga hampir tidak berubah di level 26.008, sementara indeks CAC 40 Prancis naik 0,1% menjadi 8.318, didorong oleh saham sektor industri dan energi. Indeks FTSE MIB Italia turun 0,1% menjadi 52.178, sedangkan indeks STOXX Europe 600 melemah tipis sebesar 0,05% ke level 649,60.

-Pasar Asia sebagian besar melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,7% menjadi 65.269 dan indeks Topix terkoreksi 1,83% menjadi 4.050 di tengah menguatnya nilai tukar Yen. Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,4% menjadi 25.317 akibat kekhawatiran akan kenaikan harga minyak dan meningkatnya ketegangan geopolitik. Indeks KOSPI Korea Selatan turun 0,58% menjadi 6.955 di tengah kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Sementara itu, indeks Shanghai Composite naik 0,20% ke level 3.940,6, sedangkan Shenzhen Component turun 0,52% ke level 13.703,2.

KOMODITAS: Harga komoditas energi kembali menguat di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan. Harga minyak Brent naik 2,42% menjadi sekitar US$99,53 per barel, sementara minyak mentah naik 3,51% ke atas level US$94 per barel, didorong oleh eskalasi konflik AS-Iran dan gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Harga batu bara berada di kisaran US$147,6 per ton, mendekati level tertinggi dalam 12 minggu, didukung oleh permintaan energi global dan risiko pasokan. Harga emas turun 1,25% menjadi sekitar US$4.350 per ons di tengah kekhawatiran inflasi yang meningkat, yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga. Sementara itu, harga tembaga naik 1,34% menjadi sekitar US$6,864 per pon, sedangkan timah naik 0,50% menjadi US$55.141 per ton. Harga nikel berada di bawah US$16.755 per ton, masih tertekan oleh tingginya tingkat persediaan dan lemahnya permintaan hilir, sementara harga CPO Malaysia relatif stabil di kisaran MYR4.976 per ton.

AGENDA HARI INI:

-Tiongkok (CN): Inflasi tahunan (YoY) bulan Agustus.

-Indonesia (ID): Indeks Keyakinan Konsumen bulan Agustus.

INDONESIA: Minat investasi di sektor energi baru dan terbarukan (EBT) masih didominasi oleh pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), didukung oleh pengembangan teknologi panel surya yang semakin efisien dan matang. Pemerintah memandang PLTS sebagai salah satu pilar utama dalam mendorong bauran energi nasional, sementara pengembangan energi nuklir, energi gelombang laut, dan sumber terbarukan lainnya masih menghadapi risiko serta memerlukan tingkat transisi teknologi yang lebih tinggi.

-Selain itu, pemerintah sedang menyiapkan skema insentif baru untuk menggantikan tax holiday yang berakhir pada tahun 2025, di tengah penerapan Pajak Minimum Global (Global Minimum Tax/GMT) yang dapat mengurangi manfaat pembebasan pajak bagi investor asing. Beberapa alternatif yang sedang dikaji meliputi perluasan tax allowance, subsidi penggunaan energi ramah lingkungan, dan subsidi berbasis volume produksi. Sementara itu, percepatan implementasi B50 juga terus berlanjut, dengan distribusi mencapai 3,4 juta kiloliter hingga 7 September 2026, sedangkan penyerapan biodiesel secara kumulatif telah mencapai 10,69 juta kiloliter. Sebanyak 6.050 SPBU, atau sekitar 94%, telah mendistribusikan B50, dengan target pemanfaatan biodiesel sebesar 16,8–18 juta kiloliter hingga akhir tahun; hal ini berpotensi mengurangi kebutuhan impor solar yang setara dengan sekitar 310.000 barel per hari.

-IHSG ditutup menguat 1,01% di level 6.686,44. Sepanjang perdagangan hari Selasa (09/08), IHSG bergerak di kisaran 6.636,94 – 6.696,28. Investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp379,39 miliar di Pasar Reguler. Aliran dana asing terutama masuk melalui saham BBCA, BBRI, AMMN, TAPG, dan MDKA, sementara tekanan jual asing terbesar tercatat pada saham BUMI, TPIA, ASII, BBNI, dan TINS. Nilai tukar Rupiah menguat hingga di bawah Rp17.650/US$, didukung oleh pelemahan Dolar AS dan penguatan Yen di tengah ekspektasi pengetatan kebijakan Bank of Japan (BoJ) serta pembatalan posisi carry trade.

-Secara teknikal, IHSG berhasil rebound dan kembali membentuk titik terendah baru (swing low), yang mengindikasikan munculnya kembali sinyal beli. Indikator RSI (14) naik ke level 66, menunjukkan bahwa momentum bullish kembali menguat. IHSG memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan menuju area gap di level 6.723, dengan target berikutnya di kisaran 6.787–6.858 jika level tersebut berhasil ditembus. Sebaliknya, koreksi berpotensi menguji level support di 6.636, 6.589 (EMA10), dan 6.566.

“Kami menyarankan strategi untuk mempertahankan posisi (hold) atau melakukan pembelian secara selektif dengan metode averaging up selama IHSG terus bergerak positif, namun perlu adanya kewaspadaan ekstra jika indeks menembus level support tersebut,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Rabu (09/9).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) analisa market Kiwoom Sekuritas