Pasardana.id – Riset harian Kiwoom Sekuritas menyebutkan, Wall Street ditutup lebih tinggi pada perdagangan Senin (06/07/26), didorong oleh pemulihan saham semikonduktor setelah mengalami koreksi selama dua minggu terakhir.
Indeks S&P 500 naik 0,7% menjadi 7.537,43, Nasdaq Composite menguat 1,1% menjadi 26.121,16, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 0,3% dan mencetak rekor penutupan baru di 53.055,91, sekaligus ditutup di atas level 53.000 untuk pertama kalinya.
Penguatan dipimpin oleh sektor teknologi, khususnya saham chip dan memori, setelah investor kembali mengakumulasi saham AI yang sebelumnya tertekan oleh aksi ambil untung.
SENTIMEN PASAR: Sentimen pasar cenderung positif didorong oleh kombinasi meredanya kekhawatiran atas valuasi saham AI serta data ekonomi AS yang masih menunjukkan ketahanan aktivitas domestik. Investor kembali mengakumulasi saham semikonduktor setelah koreksi sekitar 12% dalam dua minggu terakhir, didukung oleh peningkatan target harga untuk sejumlah emiten chip oleh Goldman Sachs serta rencana Samsung untuk menaikkan harga DRAM sekitar 20% pada kuartal ini. Dari sisi makroekonomi, PMI Jasa ISM AS untuk Juni tercatat di 54,0, sesuai dengan ekspektasi pasar (54,0), meskipun sedikit melambat dari 54,5 pada Mei, yang menunjukkan bahwa aktivitas sektor jasa masih dalam fase ekspansi. Sementara itu, Indeks Ketenagakerjaan meningkat menjadi 51,2 dari 47,9, menandakan bahwa perekrutan tenaga kerja kembali mengalami ekspansi untuk pertama kalinya sejak Februari, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar turun menjadi 67,7 dari 71,3, level terendah dalam empat bulan, menunjukkan bahwa tekanan inflasi mulai mereda. Kombinasi perlambatan inflasi tanpa diikuti oleh pelemahan signifikan dalam aktivitas ekonomi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga lebih lama. Fokus investor kini beralih ke notulen rapat FOMC bulan Juni serta dimulainya musim pendapatan kuartal kedua, yang diperkirakan akan menjadi katalis utama untuk arah pergerakan pasar selanjutnya.
GEOPOLITIK: Ketegangan geopolitik terus mereda setelah harga minyak kembali ke level sebelum konflik Timur Tengah. Penurunan premi risiko geopolitik mendorong investor untuk meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko lagi, khususnya saham yang terkait dengan tema kecerdasan buatan (AI).
REGULASI & KEBIJAKAN: Presiden Donald Trump meluncurkan program Trump Accounts, yaitu rekening investasi untuk anak-anak Amerika Serikat dengan setoran awal US$1.000 untuk lebih dari 500.000 anak. Sementara itu, pasar sedang menunggu risalah rapat FOMC yang akan dirilis pada hari Rabu untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga, setelah sekitar setengah dari pejabat Fed masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini.
PENDAPATAN TETAP & MATA UANG: Indeks Dolar AS (DXY) sedikit menguat menjadi sekitar 101, tetapi tetap berada di dekat level terendahnya dalam tiga minggu setelah data ketenagakerjaan sebelumnya memperkuat ekspektasi bahwa Fed tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun sedikit turun menjadi 4,48%, sementara imbal hasil 2 tahun turun menjadi 4,12%, mencerminkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih stabil. Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun naik di atas 2,80%, tertinggi sejak 1997, karena meningkatnya kekhawatiran atas ekspansi fiskal dan penerbitan utang pemerintah. Sementara itu, USD/JPY naik mendekati 162, karena tidak ada intervensi langsung dari otoritas Jepang.
PASAR EROPA & ASIA: Pasar saham Eropa bergerak beragam. DAX Jerman naik 0,2% ke rekor tertinggi baru 25.833, didukung oleh sektor industri dan keuangan. FTSE MIB Italia menguat 0,3% ke rekor tertinggi baru berkat ekspektasi peningkatan pengeluaran pertahanan oleh negara-negara NATO. Sebaliknya, FTSE 100 Inggris turun 0,3% karena melemahnya saham farmasi, sementara CAC 40 Prancis melemah 0,3% karena tekanan pada sektor barang mewah dan farmasi. Indeks STOXX Europe 600 turun 0,35% menjadi 650,50.
-Pasar Asia ditutup bervariasi. Indeks Hang Seng Hong Kong memimpin kenaikan dengan naik 1,1% menjadi 23.616 setelah PMI sektor swasta meningkat menjadi 52,0 pada Juni dari 50,4 pada Mei, mencatat ekspansi tercepat sejak Februari. Indeks TOPIX Jepang naik 0,92% menjadi 4.102, sementara Nikkei 225 ditutup relatif datar (-0,01%) di 69.737. Di sisi lain, KOSPI Korea Selatan turun 0,46% menjadi 8.051 karena aksi ambil untung di saham teknologi. Pasar saham Tiongkok juga melemah dengan Shanghai Composite turun 0,06% menjadi 4.041, sementara Shenzhen Component terkoreksi 1,16% menjadi 15.417 karena momentum reli saham teknologi mulai mereda.
KOMODITAS: Pergerakan harga komoditas cenderung beragam dalam perdagangan Senin (06/07/26). WTI naik sedikit sebesar 0,07% menjadi di bawah US$69/barel, sementara Brent menguat 0,14% menjadi di bawah US$72/barel, meskipun keduanya tetap berada pada level terendah sejak akhir Februari. Pelemahan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir dipengaruhi oleh pulihnya arus pengiriman di Selat Hormuz serta keputusan OPEC+ untuk meningkatkan pasokan global, sehingga meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan. Harga batu bara termal turun hingga di bawah US$130/ton (+0,31%), kembali ke level sebelum konflik Timur Tengah seiring dengan berlangsungnya pembicaraan perdamaian antara AS dan Iran yang meningkatkan harapan akan normalisasi jalur distribusi energi. Di sisi logam mulia, emas melemah 0,14% menjadi US$4.140/ounce karena penguatan dolar AS, sementara tembaga naik 0,47% menjadi di atas US$6,15/lb. Minyak sawit Malaysia (CPO) melonjak lebih dari 1% menjadi di atas MYR4.500/ton, didorong oleh pelemahan ringgit dan penguatan harga minyak nabati di pasar Tiongkok. Sementara itu, harga timah turun menjadi US$50.550/ton, level terendah dalam lebih dari tujuh minggu, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran atas prospek pengeluaran infrastruktur AI, sedangkan nikel naik 0,86% menjadi sekitar US$16.400/ton, meskipun masih berada di dekat level terendah sejak akhir Desember karena ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia.
INDONESIA: Pemerintah Indonesia dan Singapura memperkuat kerja sama strategis di sektor energi dengan menunjuk BPI Danantara sebagai pelaksana proyek perdagangan listrik lintas batas. Melalui anak perusahaannya, Danantara Investment Management (DIM), Danantara menandatangani nota kesepahaman dengan Keppel Electric dan Sembcorp Utilities untuk menjajaki pembelian listrik rendah karbon dari Indonesia, serta bekerja sama dengan Singapore Energy Interconnections (SGEI) dalam mengembangkan interkoneksi jaringan listrik kedua negara. Proyek dengan kapasitas minimum 3,4 GW ini ditargetkan untuk memulai operasi komersial pada tahun 2035 dan akan menerapkan Sertifikat Energi Terbarukan Lintas Batas (REC) sebagai standar perdagangan listrik hijau. Kerja sama ini merupakan bagian dari 26 perjanjian yang dihasilkan dalam Pertemuan Pemimpin Indonesia-Singapura, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok energi bersih regional dan mendukung realisasi Jaringan Listrik ASEAN.
-Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menargetkan kecepatan internet nasional mencapai rata-rata 100 Mbps dalam dua tahun ke depan melalui percepatan pembangunan infrastruktur digital. Pemerintah mendorong operator telekomunikasi untuk meningkatkan belanja modal (capex) untuk memperluas jaringan fiber optik, broadband tetap, dan layanan internet berbasis satelit untuk mempercepat pemerataan konektivitas ke daerah-daerah yang masih mengalami titik buta. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi digital nasional, meningkatkan produktivitas publik, serta menghadirkan layanan internet yang lebih cepat, lebih merata, dan terjangkau, sekaligus menjadi katalisator bagi pertumbuhan sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital.
-JCI ditutup lebih tinggi sebesar 0,69% menjadi 5.916,07 dengan pergerakan di kisaran 5.857,35 – 5.935,68. Investor asing kembali mencatat penjualan bersih sebesar Rp163,01 miliar, sehingga penjualan bersih kumulatif tahun berjalan (YTD) mencapai Rp89,07 triliun. Tekanan jual terutama terjadi di BMRI, MAPI, AMMN, BREN, dan TLKM, sementara aksi beli asing terfokus pada BBCA, TPIA, BBRI, BUVA, dan RAJA. Di pasar valuta asing, Rupiah melemah menjadi sekitar Rp17.990/US$, mengakhiri tren kenaikan selama lima hari, karena fokus pasar beralih ke risiko domestik menjelang rilis data cadangan devisa Juni setelah lima bulan berturut-turut mengalami penurunan cadangan devisa. Secara teknis, JCI telah mulai menunjukkan sinyal positif setelah mencatat breakout kecil dari garis tren turunnya dan berhasil bertahan di atas EMA10 (5.868), yang menunjukkan bahwa tekanan jual mulai mereda. Meskipun demikian, tren utama tetap bearish karena indeks masih di bawah EMA20 (5.960) dan EMA50 (6.358) serta bergerak dalam saluran tren turun. RSI (14) naik menjadi 45,20, mencerminkan peningkatan momentum meskipun belum memasuki zona bullish.
“Selama JCI mampu bertahan di atas 5.900 – 5.916, peluang rebound teknis tetap terbuka menuju 5.960 dan 6.045 – 6.107. Sebaliknya, jika jatuh kembali di bawah 5.900, indeks berisiko menguji support di 5.882 – 5.800, kemudian 5.744 (area gap). Konfirmasi peningkatan tersebut masih memerlukan peningkatan volume transaksi dan akumulasi investor asing yang berkelanjutan,” sebut analis Kiwoom Sekuritas dalam riset Selasa (07/7).